Baliho Film 'Aku Harus Mati' Meresahkan, Potensi Provokasi Bunuh Diri

4 hours ago 5

Jakarta, CNN Indonesia --

Baliho promosi film 'Aku Harus Mati' dicopot di beberapa tempat karena dinilai meresahkan, mengganggu psikologis warga, hingga berpotensi pada provokasi ajakan bunuh diri.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung telah merespons keluhan masyarakat terkait keberadaan baliho promosi film tersebut di wilayah administrasi Jakarta.

Setelah menerima laporan masuk, ia memastikan jajarannya telah memantau langsung permasalahan tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Yang pertama berkaitan dengan poster film 'Aku Harus Mati', saya sudah mendapatkan laporan dari Wakil Koordinator Staf Khusus dan juga oleh Kepala Dinas Diskominfotik," ujar Pramono di Pasar Gardu Asem, Jakarta Pusat, Senin (6/4).

Sebagai bentuk penanganan konkret, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bergerak cepat menjalin komunikasi dengan sejumlah lembaga berwenang guna menertibkan materi promosi yang memicu polemik tersebut.

Eksekusi pencopotan reklame itu langsung dilakukan agar tidak semakin meresahkan masyarakat yang melintas.

"Kemudian di lapangannya kami sudah melakukan koordinasi dengan KPI DKI Jakarta dan Satpol PP dan termasuk biro iklan, baliho tersebut sudah kami turunkan," ungkap Pramono.

Lebih lanjut, Pramono memberikan peringatan keras kepada para pelaku industri kreatif dan biro iklan agar lebih bijak dalam menampilkan materi visual di ruang publik.

Ia menegaskan bahwa pemakaian strategi pemasaran yang provokatif dan mengabaikan dampak sosial bagi warga Jakarta tidak akan diberi ruang toleransi.

"Tetapi yang prinsip adalah ini tidak boleh terulang kembali," ujar Pramono"

"Yang seperti-seperti ini hanya untuk menarik publik kemudian memasang iklan yang sensitif dan ini berdampak bagi masyarakat, maka ini tidak boleh terulang kembali," sambungnya.

Sebelumnya, Promosi film horror berjudul "Aku Harus Mati" sempat memicu perdebatan karena visual billboard-nya yang dinilai terlalu ekstrem.

Cegah provokasi bunuh diri

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengatakan materi promosi film kontroversial, seperti Aku Harus Mati, di ruang publik berisiko memicu peniruan bunuh diri pada individu yang rentan.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi mengatakan media dan materi promosi memiliki kekuatan untuk membentuk cara orang memahami masalah. Judul, gambar, atau narasi yang menyederhanakan bunuh diri menjadi solusi atas penderitaan dapat menurunkan ambang resistensi bagi mereka yang sedang rapuh.

"Paparan berulang terhadap pesan yang meromantisasi atau menormalisasi tindakan tersebut dapat menjadi pemicu bagi individu dengan riwayat depresi, impulsifitas, atau pengalaman traumatis," katanya di Jakarta, Senin.

Perdebatan publik sebagai reaksi dari materi iklan tersebut, katanya, bukan sekadar soal estetika atau kebebasan berekspresi. Ketika tema bunuh diri dihadirkan tanpa kehati-hatian, dampaknya bisa menyentuh keselamatan publik. Menurutnya, iklan harus disajikan secara aman, seperti yang dituangkan dalam etika pariwara.

Oleh karena itu konteks penyajian menjadi krusial, kata dia, apakah pesan itu menempatkan bunuh diri dalam kerangka kompleksitas masalah kesehatan jiwa dan pencegahan, atau justru menonjolkan unsur dramatis yang memuliakan tindakan.

"Kekhawatiran profesional kesehatan jiwa dan langkah penertiban materi promosi yang dilaporkan menunjukkan bahwa efek provokatif bukan sekadar spekulasi. Pilihan kata yang tampak sepele, menggambarkan bunuh diri sebagai 'pilihan' atau 'pembebasan', bisa ditangkap sebagai legitimasi oleh orang yang sedang putus asa," katanya.

Di sisi lain, penyajian yang menekankan adanya bantuan, menyoroti faktor penyebab yang kompleks, dan mengarahkan orang ke layanan dukungan dapat mengurangi risiko peniruan dan membantu mengubah narasi dari sensasi menjadi pencegahan.

"Data layanan krisis dan laporan kematian yang tercatat memperkuat gambaran bahwa masalah kesehatan jiwa semakin nyata di masyarakat. Dari laporan Kepolisan pada tahun 2023 tercatat 1.350 kasus kematian karena bunuh diri dan meningkat menjadi 1.450 pada 2024," katanya.

Disclaimer Kesehatan Mental - rev1Dok. CNNIndonesia

Selain itu, layanan krisis kesehatan jiwa menunjukkan lonjakan permintaan. Volume panggilan dan pesan ke layanan healing119 meningkat dari sekitar 400 panggilan pada Agustus 2025 menjadi 550 panggilan per hari pada 2026.

Angka-angka ini menegaskan paparan publik terhadap materi sensitif terjadi dalam konteks kebutuhan layanan yang meningkat, sehingga komunikasi publik yang tidak bertanggung jawab berisiko memperburuk situasi.

"Kenaikan jumlah laporan dan permintaan bantuan juga menandakan dua hal sekaligus. Pertama, ada lebih banyak orang yang mengalami krisis kesehatan jiwa. Kedua, semakin banyak orang yang mencoba mencari bantuan, sebuah sinyal penting bahwa akses dan respons layanan harus diperkuat," kata Imran.

Namun, angka kematian yang dilaporkan juga mengingatkan bahwa upaya pencegahan belum sepenuhnya efektif dan bahwa paparan media yang tidak aman dapat menambah beban pada populasi yang rentan.

Penelitian modern tentang suicide exposure memperkirakan bahwa satu kematian akibat bunuh diri dapat memengaruhi hingga sekitar 135 orang dalam berbagai derajat, mulai dari duka intens hingga paparan sekunder yang menimbulkan stres atau risiko kesehatan jiwa

Menurutnya, untuk menghadapi realitas ini diperlukan tanggung jawab kolektif. Pembuat film, tim pemasaran, pengelola ruang publik, dan media memiliki peran untuk memastikan bahwa pesan yang disebarkan tidak memperbesar risiko.

"Konsultasi dengan ahli kesehatan jiwa saat merancang kampanye, penghapusan atau revisi materi promosi yang berisiko, serta penyertaan pesan dukungan dan rujukan layanan pada setiap materi yang menyentuh tema bunuh diri adalah langkah-langkah yang dapat mengubah nada komunikasi dari provokatif menjadi protektif," katanya.

Di tingkat masyarakat, penting untuk menumbuhkan kesadaran bahwa bunuh diri jarang merupakan hasil dari satu penyebab tunggal. Hal itu biasanya muncul dari kombinasi gangguan mood, tekanan sosial, krisis situasional, dan faktor biologis atau riwayat.

"Ketika media memilih untuk menempatkan konteks, menyoroti pencegahan, dan mengarahkan orang ke bantuan, mereka membantu mengurangi stigma dan membuka jalan bagi intervensi yang menyelamatkan nyawa," katanya.

(kna/antara/gil)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Tekno | Hukum | | |